![]() |
| MISI DAGANG - Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah atau yang akrab disapa Dek Fadh, menyambut baik pelaksanaan misi dagang yang mempertemukan pelaku usaha dari Aceh dan Jawa Timur di Hotel Amel, Banda Aceh. |
BANDA ACEH – Kopi Gayo, nilam, dan berbagai produk unggulan Aceh berpeluang memperluas jangkauan pasar melalui kerja sama perdagangan dengan Jawa Timur. Misi dagang kedua provinsi yang berlangsung di Banda Aceh, Senin (19/10/2026), mencatat potensi transaksi mencapai Rp1,079 triliun.
Nilai transaksi tersebut menjadi peluang bagi Aceh untuk memperluas jaringan pemasaran produk lokal, menarik investasi, sekaligus membuka jalan bagi pelaku usaha daerah memasuki pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan potensi transaksi itu berlanjut menjadi realisasi perdagangan yang memberikan manfaat langsung bagi pelaku usaha dan masyarakat.
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah atau yang akrab disapa Dek Fadh, menyambut baik pelaksanaan misi dagang yang mempertemukan pelaku usaha dari Aceh dan Jawa Timur di Hotel Amel, Banda Aceh.
Menurut Dek Fadh, kerja sama antardaerah tidak seharusnya berhenti pada kesepakatan jual beli. Kolaborasi tersebut perlu dikembangkan menjadi kemitraan jangka panjang yang mencakup perdagangan, investasi, hingga pariwisata.
“Terima kasih kepada Ibu Gubernur Jawa Timur. Kami berharap kerja sama ini bisa berlanjut ke bidang lain, terutama pariwisata,” kata Dek Fadh.
Ia menilai, Aceh memiliki sejumlah komoditas unggulan yang berpotensi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas. Kopi Gayo dan nilam menjadi dua produk yang diharapkan mampu memperkuat posisi Aceh dalam jaringan perdagangan nasional maupun internasional.
Menurutnya, perluasan akses pasar menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan daya saing produk daerah. Dengan jaringan bisnis yang lebih luas, pelaku usaha Aceh diharapkan tidak hanya bergantung pada pasar lokal.
Dek Fadh juga mengingatkan kembali posisi historis Aceh sebagai kawasan perdagangan penting pada masa Kesultanan Aceh, terutama ketika pemerintahan Sultan Iskandar Muda memperkuat hubungan dagang dengan berbagai wilayah.
Potensi sejarah dan letak strategis tersebut, menurutnya, dapat menjadi salah satu modal untuk mendorong Aceh kembali memperluas hubungan perdagangan.
Kerja Sama Dagang Diperluas ke Pariwisata
Selain perdagangan komoditas, Pemerintah Aceh berharap hubungan dengan Jawa Timur dapat membuka peluang baru di sektor pariwisata.
Aceh memiliki kekayaan wisata alam, sejarah, budaya, dan religi yang dapat dikembangkan melalui promosi bersama serta jejaring industri pariwisata. Kerja sama tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan promosi destinasi Aceh kepada wisatawan dari berbagai daerah.
Bagi Aceh, pengembangan pariwisata juga berpotensi memberikan efek berantai terhadap perekonomian masyarakat, mulai dari usaha penginapan, kuliner, transportasi, kerajinan, hingga produk UMKM.
Meski demikian, Dek Fadh mengakui Aceh masih menghadapi tantangan pemulihan pembangunan pascabencana. Pemerintah daerah juga perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir menjelang akhir tahun.
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang menjadi salah satu daerah pertama menyalurkan bantuan bagi masyarakat Aceh ketika bencana melanda.
149 Pelaku Usaha Bertemu
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan misi dagang merupakan instrumen untuk memperkuat konektivitas ekonomi antardaerah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Khofifah berharap kesepakatan yang terbangun melalui pertemuan tersebut dapat ditindaklanjuti secara efektif sehingga menghasilkan manfaat ekonomi bagi kedua provinsi.
“Mudah-mudahan kesepakatan bersama ini bisa ditindaklanjuti secara efektif karena setiap melakukan misi dagang, kami ingin bisa maju bersama,” ujar Khofifah.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Iwan, menjelaskan bahwa kegiatan di Banda Aceh merupakan agenda misi dagang ke-27 yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Kegiatan tersebut melibatkan 149 pelaku usaha, terdiri atas 109 pelaku usaha dari Aceh dan 40 pelaku usaha dari Jawa Timur.
Pertemuan bisnis menyasar berbagai komoditas dan produk yang dinilai dapat saling melengkapi, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kerajinan, hingga fesyen.
Selain mempertemukan pelaku usaha, kegiatan tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama antardinas terkait serta kesepakatan dagang yang melibatkan Kadin, IWAPI, HIPMI, Gekrafs, dan pelaku usaha dari kedua provinsi.
Khofifah juga menyinggung hubungan historis masyarakat Aceh dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk kepahlawanan Laksamana Malahayati.
Realisasi Menjadi Kunci
Potensi transaksi Rp1,079 triliun menjadi salah satu indikator besarnya peluang perdagangan yang dapat dikembangkan melalui hubungan bisnis Aceh dan Jawa Timur. Akan tetapi, nilai tersebut masih perlu dilihat berdasarkan realisasi transaksi dan pelaksanaan kesepakatan setelah kegiatan berakhir.
Tindak lanjut berupa pemenuhan kebutuhan pasar, kesinambungan pasokan, kepastian kualitas produk, serta kemitraan antara produsen dan pembeli akan menentukan sejauh mana misi dagang tersebut berdampak terhadap perekonomian daerah.
Bagi pelaku usaha Aceh, peluang ini dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas distribusi produk. Sementara bagi Jawa Timur, kerja sama tersebut membuka ruang untuk memperkuat hubungan pasokan dan pemasaran dengan salah satu daerah penghasil komoditas unggulan di Sumatra.
Dengan tindak lanjut yang konkret, misi dagang ini diharapkan tidak hanya menghasilkan angka transaksi di atas kertas, tetapi juga memperkuat usaha lokal, membuka peluang investasi, dan memperluas pasar produk Aceh hingga ke tingkat internasional.[]

