| Ketika jalan tol membuat perjalanan lebih cepat, tetapi warung-warung di kaki Seulawah kehilangan orang yang berhenti. Foto/ist |
ACEHDIURNA.COM, ACEH BESAR - Pagi turun perlahan di Saree.
Kabut menggantung di kaki Gunung Seulawah. Udara dingin menyusup di antara pepohonan. Dari kejauhan, gunung itu tetap berdiri seperti biasa—diam, kokoh, seolah tidak pernah terjadi perubahan apa pun di bawahnya.
Tetapi di bawah kaki Seulawah, sebuah perubahan besar sedang berlangsung.
Jalan nasional Banda Aceh-Medan yang dahulu menjadi urat nadi Saree kini tidak lagi seramai dulu.
Kendaraan masih melintas.
Sesekali bus datang.
Truk masih berjalan.
Mobil pribadi masih terlihat.
Namun jumlahnya jauh berkurang.
Warung-warung yang dahulu nyaris tidak pernah sepi kini lebih banyak berhadapan dengan meja kosong. Lapak penjual keripik masih berjajar. Plastik-plastik berisi keripik singkong, pisang dan ubi masih tergantung.
Tetapi pembeli tidak lagi datang sebanyak dahulu.
Saree tidak kehilangan jalan. Saree kehilangan arus manusia yang selama puluhan tahun membuat jalan itu hidup.
Dulu, setiap kendaraan adalah harapan
Ada masa ketika perjalanan Banda Aceh-Medan hampir selalu memiliki satu cerita yang sama.
Saree adalah tempat berhenti.
Sopir bus berhenti minum kopi.
Penumpang turun mencari makanan.
Keluarga membeli oleh-oleh.
Pengemudi membeli keripik untuk dibawa pulang.
Warung makan mendapat pelanggan.
Pedagang mendapat uang.
Dan dari uang itulah kehidupan keluarga-keluarga di Saree terus berjalan.
Jalan nasional bukan sekadar hamparan aspal.
Ia adalah pasar yang panjang.
Setiap kendaraan yang melambat adalah calon pembeli.
Setiap bus yang berhenti adalah rezeki.
Setiap rombongan keluarga yang turun berarti beberapa menit tambahan bagi roda ekonomi masyarakat.
Tetapi kemudian datang jalan baru.
Tol Sigli-Banda Aceh atau Sibanceh.
Jalan yang dibangun untuk mempercepat perjalanan itu perlahan mengubah kebiasaan orang.
Kendaraan yang dahulu melewati Saree kini banyak memilih jalan tol.
Perubahan itu terasa langsung oleh pedagang.
Dayat, salah seorang pedagang keripik Saree, mengaku pendapatannya turun tajam setelah tol beroperasi.
"Pendapatan kami jelas terasa berkurang dari sebelum tol berfungsi. Kalau sebelumnya bisa meraup jutaan rupiah per hari, sekarang hanya sekitar tiga sampai empat ratus ribu saja."
Ia mengatakan kendaraan roda empat, terutama mobil pribadi, lebih banyak memilih Tol Padang Tiji-Seulimeum dibanding jalur lama melalui Saree.
Jutaan rupiah menjadi ratusan ribu.
Perbedaannya bukan sekadar angka.
Di balik angka itu ada kebutuhan rumah tangga.
Ada belanja harian.
Ada biaya sekolah.
Ada modal untuk membeli bahan baku.
Ada kehidupan yang harus terus berjalan.
"Sekarang sepi"
Nurmiati, pedagang keripik lainnya, merasakan perubahan yang sama.
Ia masih bertahan.
Masih membuka lapak.
Masih berharap kendaraan yang melewati jalan lama akan berhenti.
Tetapi ia mengakui suasananya sudah berbeda.
"Kalau dulu saat liburan jalanan padat, sekarang sudah tidak seramai itu. Mungkin karena banyak orang lebih memilih lewat tol menuju Padang Tiji."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun di dalamnya ada gambaran perubahan sebuah kawasan.
Dulu, musim liburan adalah masa yang dinanti pedagang Saree.
Jalan padat.
Mobil mengular.
Penumpang turun.
Keripik berpindah tangan.
Uang masuk ke laci-laci warung.
Kini, musim liburan tidak otomatis berarti halaman warung penuh kendaraan.
Nurmiati masih menyimpan harapan.
Jika ada tempat berjualan di rest area, ia mengatakan, para pedagang berencana memanfaatkannya.
Yang paling terasa adalah kesunyian
Bagi orang yang baru pertama kali datang ke Saree, mungkin tidak ada yang tampak terlalu ganjil.
Gunung masih ada.
Warung masih ada.
Pedagang masih menjual dagangannya.
Jalan nasional masih terbentang.
Tetapi bagi orang yang sudah puluhan tahun hidup di sana, kesunyian itu mudah dikenali.
Abubakar, yang akrab disapa Cek Baka, adalah salah satunya.
Ia bukan sekadar pedagang.
Ia juga Plt Ketua Pasar Saree.
Ia melihat perubahan itu dari jarak paling dekat.
"Memang mati total perekonomian kami, Pak. Dulu ramai, sekarang sepi. Ini dampak langsung dari beroperasinya jalan tol."
Pernyataan Cek Baka dikutip Harian Rakyat Aceh pada Agustus 2026 ketika menggambarkan kondisi Pasar Saree dan Lamtamot setelah beroperasinya jalan tol.
Mati total.
Dua kata yang keras.
Tetapi bagi seorang pedagang yang setiap hari melihat kursi kosong, kata itu mungkin lahir dari sesuatu yang lebih keras lagi: rasa takut.
Takut dagangan tidak habis.
Takut modal tidak kembali.
Takut warung tidak lagi mampu membayar kebutuhan rumah.
Takut anak-anak melihat orang tua mereka kehilangan sumber penghasilan.
Pedagang mulai meninggalkan Saree
Sebagian pedagang memilih bertahan.
Sebagian lainnya memilih pergi.
Bukan karena mereka tidak mencintai Saree.
Tetapi karena mereka harus mencari pembeli.
Pada 2026, sejumlah pedagang keripik Saree mulai memindahkan lapaknya ke Padang Tiji, Pidie, terutama di kawasan dekat pintu keluar tol.
Di sana, arus kendaraan kembali menjadi peluang.
Riski, karyawan usaha Keripik Saree, menjelaskan alasan perpindahan itu dengan sangat sederhana.
"Karena keadaan, sekarang kendaraan yang lalu lalang di Sare sudah beralih ke jalan tol, jadi kami memutuskan pindah ke sini (Padang Tiji)."
Pedagang lain, Suryani, juga mengaku kendaraan yang melewati Saree menyusut drastis.
"Sejak jalan tol beroperasi penuh, kendaraan yang lewat Saree menyusut drastis. Jualan kami sepi sekali di sana. Makanya kami nekat pindah ke Padang Tiji karena di sini dekat dengan gerbang keluar tol."
Ironisnya, pedagang keripik Saree kini menemukan pembeli justru di dekat jalan tol—jalan yang pada saat bersamaan telah mengurangi pembeli mereka di Saree.
Mereka tidak meninggalkan usaha.
Mereka hanya mengejar kembali arus manusia yang dulu datang kepada mereka.
Saree bukan sekadar pedagang keripik
Yang sedang dipertaruhkan sebenarnya jauh lebih besar daripada keripik.
Di belakang lapak keripik ada petani.
Ada pemasok singkong.
Ada pemasok pisang.
Ada pekerja yang menggoreng.
Ada orang yang mengemas.
Ada sopir yang mengantar.
Ada warung yang menjual.
Semuanya terhubung dalam rantai ekonomi kecil.
Ketika kendaraan tidak lagi berhenti, rantai tersebut ikut merasakan dampaknya.
Karena itu, persoalan Saree tidak cukup dilihat sebagai persoalan pedagang yang kehilangan pelanggan.
Ini adalah persoalan perubahan pusat ekonomi.
Selama puluhan tahun, jalan nasional adalah pusatnya.
Sekarang sebagian arus ekonomi bergerak ke tempat lain.
Jalan tol bukan musuh
Di sinilah cerita Saree menjadi lebih rumit.
Tidak mungkin pembangunan jalan tol hanya dilihat dari sisi kerugiannya.
Tol Sibanceh membawa manfaat besar bagi mobilitas masyarakat.
Perjalanan menjadi lebih cepat.
Konektivitas meningkat.
Distribusi barang dapat menjadi lebih efisien.
Keselamatan dan kenyamanan perjalanan juga menjadi bagian dari tujuan pembangunan tersebut.
Kepala Regional Sumatera Bagian Utara PT Hutama Karya, Taufiq Hidayat, mengatakan perubahan pola perjalanan memang dapat terjadi ketika infrastruktur baru hadir.
"Perubahan pola perjalanan merupakan hal yang dapat terjadi seiring hadirnya infrastruktur baru. Yang penting bagi kami adalah bagaimana peningkatan konektivitas ini juga dapat membuka peluang ekonomi baru."
Hutama Karya kemudian menawarkan peluang bagi UMKM Saree untuk berjualan di rest area Tol Sibanceh. Salah satu skema yang disiapkan adalah alokasi sekitar 30 persen kios UMKM atau sekitar tiga kios di setiap rest area yang dapat difasilitasi tanpa biaya sewa melalui mekanisme kerja sama dengan Pemkab Aceh Besar.
Artinya, ada upaya untuk mempertemukan dua dunia yang sebelumnya seolah berseberangan:
jalan tol dan pedagang jalan lama.
Pemerintah Aceh Besar mulai mencari jalan keluar
Pemerintah Kabupaten Aceh Besar juga menyatakan perhatian terhadap kondisi pelaku usaha di Saree.
Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Aceh Besar, Drs. Sulaimi, M.Si., menyambut positif rencana pemberdayaan UMKM Saree di rest area.
"Pada prinsipnya, Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Aceh Besar sangat mendukung dan berterima kasih atas perhatian Hutama Karya terhadap pengembangan UMKM dan aktivitas ekonomi masyarakat."
Menurut Sulaimi, pemerintah daerah akan lebih dulu mendata pelaku usaha dan UMKM di kawasan Saree agar program yang disiapkan tepat sasaran.
Setelah pendataan, Diskopukmdag akan menyampaikan rencana tersebut kepada Bupati Aceh Besar dan memfasilitasi pembahasan lanjutan dengan Hutama Karya mengenai mekanisme serta aspek teknis pelaksanaannya.
Ini adalah langkah awal.
Tetapi Saree membutuhkan lebih dari sekadar lapak baru.
Mungkin Saree harus berhenti menunggu kendaraan
Selama ini Saree hidup karena orang melewatinya.
Itulah kekuatan sekaligus kelemahannya.
Ketika kendaraan memilih jalan lain, Saree ikut kehilangan denyut.
Karena itu, mungkin sudah waktunya Saree tidak lagi menggantungkan masa depan hanya pada orang yang kebetulan melintas.
Saree harus membuat orang sengaja datang.
Modalnya ada.
Gunung Seulawah ada.
Udara sejuk ada.
Kuliner ada.
Keripik sudah menjadi identitas.
Pertanian ada.
Lanskap alam tersedia.
Potensi agrowisata juga pernah didorong sebagai alternatif ekonomi bagi kawasan tersebut. Tokoh masyarakat Kemukiman Saree, Maswadi, misalnya, mendorong perubahan konsep kawasan menjadi destinasi agrowisata dan sentra wisata kuliner.
Jika selama ini orang berhenti karena harus lewat, masa depan Saree mungkin justru terletak pada kemampuan membuat orang berhenti karena ingin datang.
Gunung Seulawah tidak pernah berpindah
Menjelang sore, cahaya matahari jatuh di lereng Seulawah.
Bayangan pohon memanjang di atas aspal.
Warung-warung masih terbuka.
Sebagian pedagang masih menunggu.
Ada yang bertahan.
Ada yang mencoba pindah.
Ada pula yang sedang menunggu kebijakan pemerintah.
Di atas sana, Gunung Seulawah tetap tidak berubah.
Ia sudah menyaksikan begitu banyak perubahan.
Jalan lama pernah menjadi urat nadi.
Kemudian jalan tol datang membawa kecepatan.
Dan Saree harus menemukan cara untuk hidup di antara keduanya.
Mungkin kelak, jalan tol tidak lagi dipandang sebagai jalan yang mengambil pembeli dari Saree.
Mungkin ia justru menjadi jalan yang membawa pembeli baru.
Tetapi untuk itu, Saree harus memiliki sesuatu yang membuat orang bersedia keluar dari jalur cepat.
Sebuah tempat makan yang dirindukan.
Secangkir kopi yang ingin dicoba.
Keripik yang ingin dibawa pulang.
Pemandangan yang ingin difoto.
Atau sekadar udara dingin Seulawah yang tidak bisa dibeli di rest area mana pun.
Sebab jalan tol bisa membuat perjalanan menjadi lebih cepat.
Tetapi manusia tetap membutuhkan tempat untuk berhenti.
Dan mungkin, itulah kesempatan terakhir Saree.
Bukan meminta kendaraan kembali seperti dulu.
Melainkan membuat orang berkata:
"Jangan terus lewat. Berhenti sebentar di Saree."
Karena di kaki Seulawah itu, yang sedang diperjuangkan warga bukan sekadar keramaian jalan.
Mereka sedang mempertahankan sebuah cara hidup.[]
