![]() |
| Korban pengeroyokan Nourman Hidayat SH saat berada di rumah sakit menjalani perawatan ditemani para koleganya. Foto/Ist |
ACEHDIURNA.COM, BANDA ACEH – Sebuah postingan di media sosial yang awalnya disebut sebagai kritik dan satire berkembang menjadi rangkaian peristiwa yang jauh lebih serius.
Dalam beberapa hari, persoalan tersebut disebut berujung pada kedatangan puluhan orang ke sebuah kantor hukum, kerusakan kantor, pengeroyokan, dugaan ancaman terhadap keluarga hingga membuat Nourman Hidayat mengaku tidak berani tidur di rumahnya sendiri selama dua malam.
Nourman Hidayat, pemilik Kantor Hukum Nourman & Partners, menuangkan seluruh rangkaian peristiwa itu dalam sebuah kronologis tertulis tertanggal 2 September 2026.
Dalam keterangannya, Nourman menyebut persoalan bermula sekitar sepekan sebelum 31 Agustus 2026. Saat itu ia melihat video yang telah beredar di media sosial yang menampilkan seseorang yang dikenal sebagai Cut Fit Tanoh Abee bersama seorang perempuan.
Nourman kemudian mengunggah kembali video tersebut melalui akun media Ini Aceh di Instagram dan TikTok. Ia menyertakan caption bernada satire:
“Seorang perempuan mirip Cut Fit Tanoh Abee, cantik sekali.”
Menurut Nourman, ia sebelumnya tidak pernah bertemu langsung dengan Cut Fit. Ia mengaku kritik tersebut ditujukan terhadap penampilan dan perilaku Cut Fit sebagaimana terlihat dalam video yang telah dipublikasikan secara terbuka.
Ia juga menegaskan, postingan tersebut tidak menyebut LGBT dan tidak menuduh Cut Fit memiliki orientasi seksual tertentu.
Namun, setelah postingan beredar, kolom komentar berkembang menjadi perdebatan. Sebagian warganet membela Cut Fit, sementara sebagian lainnya memberikan kritik.
Menurut Nourman, perdebatan kemudian berubah menjadi cacian yang menyeret kehormatan orang tua, keluarga dan ulama.
Ia mengaku tidak ikut dalam perdebatan tersebut.
Karena tidak menginginkan polemik berkembang lebih jauh, Nourman akhirnya menghapus postingan itu. Ia menyebut penghapusan dilakukan setelah subuh pada 31 Agustus 2026, sebelum rangkaian kekerasan terhadap dirinya terjadi.
Puluhan Orang Datangi Kantor
Malam harinya, sekitar pukul 23.00 WIB, situasi berubah.
Nourman menyebut puluhan orang menggunakan beberapa kendaraan mendatangi Kantor Hukum Nourman & Partners.
Pada waktu yang hampir bersamaan, sejumlah orang juga berulang kali menghubungi nomor telepon pribadinya melalui panggilan dan pesan.
Setidaknya, menurut Nourman, ada lima orang atau lebih yang secara bergantian mencoba menghubunginya.
Salah satu nama yang disebutnya adalah Faisal Rizal, yang berdasarkan informasi yang diterimanya disebut sebagai staf khusus Mualem.
Nourman memilih tidak memenuhi ajakan bertemu tersebut.
Ia mengaku tidak berada di kantor ketika puluhan orang datang karena mengkhawatirkan keselamatannya.
Berdasarkan informasi yang diterimanya setelah kejadian, Cut Fit disebut berada di antara pihak yang memimpin kedatangan tersebut. Namun, Nourman mengakui dirinya tidak menyaksikan langsung siapa yang mengorganisasi kedatangan itu.
Karena itu, ia meminta identitas orang-orang yang datang, kendaraan yang digunakan serta peran masing-masing pihak diperiksa melalui keterangan saksi, CCTV, rekaman dokumentasi dan bukti komunikasi.
Yang membuat peristiwa itu semakin serius, menurut Nourman, puluhan orang tersebut disebut bertahan selama berjam-jam dan menunggu kedatangannya hingga sekitar pukul 05.00 WIB.
Tiga Anak Sedang Tidur di Dalam Kantor
Di tengah kedatangan massa tersebut, tiga anak Nourman berada di dalam kantor.
Ketiganya sedang tidur.
Nourman mengatakan kondisi itu menjadi salah satu hal yang paling membuatnya khawatir. Ia menilai tindakan yang mengakibatkan kerusakan bangunan pada malam hari berpotensi membahayakan siapa pun yang berada di dalam kantor, termasuk anak-anaknya.
Ia juga memperoleh informasi bahwa terdapat personel kepolisian dari Polsek di lokasi. Namun, identitas personel serta tindakan dan perannya selama kejadian, menurut Nourman, masih perlu dikonfirmasi.
Setelah peristiwa tersebut, kantor mengalami kerusakan dan tidak dapat beraktivitas secara normal selama beberapa hari.
Pagi Hari, Upaya Damai Dibuka
Pagi 31 Agustus 2026, Nourman bertemu dengan Keuchik Lamteh dan pihak Polsek.
Pertemuan itu membicarakan bagaimana persoalan dihentikan agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Nourman mengatakan dirinya menerima gagasan penyelesaian secara damai. Ia bahkan bersedia bertemu langsung dengan Cut Fit.
Bagi Nourman, pertemuan tersebut bukan hanya mediasi, tetapi juga kesempatan untuk bersilaturahmi dan menjelaskan secara langsung persoalan yang muncul dari postingan media sosial tersebut.
Namun sejak awal ia meminta pertemuan dilakukan secara terbatas, hanya melibatkan dirinya, Cut Fit dan pihak kepolisian untuk menjaga keamanan.
Kekhawatiran Nourman muncul karena ia tidak ingin pertemuan berubah menjadi ajang provokasi akibat kehadiran banyak orang.
Pertemuan Dikondisikan Aman
Pada siang harinya, Nourman mengaku dihubungi seorang personel Intelkam Polda Aceh yang disebut bernama Ihsan atau Ikhsan.
Personel tersebut kemudian menemui Nourman di kantornya. Pembicaraan kembali berfokus pada upaya penyelesaian secara damai.
Dalam komunikasi tersebut juga terdapat Faisal Rizal yang disebut sebagai penghubung. Nourman menyatakan status Faisal sebagai “Staf Khusus Mualem” merupakan informasi yang ia terima dari pihak Intelkam Polda Aceh dan belum diverifikasi secara pribadi.
Nourman kemudian mendapat penjelasan bahwa pertemuan telah dikondisikan agar berlangsung aman dan kondusif.
Pertemuan direncanakan sekitar pukul 21.00 WIB di kediaman Cut Fit di Tanoh Abee, Seulimeum.
Nourman sempat mempertanyakan lokasi dan waktu pertemuan. Ia khawatir pertemuan pada malam hari dan di kediaman pihak yang akan ditemuinya justru menimbulkan risiko.
Namun, karena mendapat keyakinan bahwa kondisi telah dikondisikan agar aman, ia akhirnya bersedia datang.
Menolak Dikawal
Menjelang keberangkatan, sejumlah orang dan anggota keluarga sebenarnya ingin ikut mendampingi Nourman.
Mereka khawatir ia mendapat tekanan, provokasi atau bahkan kekerasan.
Namun Nourman menolak.
Ia tidak ingin datang membawa massa.
Menurutnya, jika ia datang bersama banyak orang, pertemuan yang semula dimaksudkan untuk perdamaian justru dapat berubah menjadi konfrontasi dua kelompok.
Sekitar pukul 21.00 WIB, Nourman berangkat menuju Tanoh Abee.
Ia tidak menggunakan kendaraan kepolisian. Ia berada dalam kendaraan bersama aparatur Gampong Lamteh, termasuk Keuchik dan Tuha Peut.
Dalam perjalanan, kendaraan sempat berhenti di SPBU Samahani sebelum melanjutkan perjalanan.
Nourman mengaku melihat sekitar empat hingga lima kendaraan berjalan beriringan menuju lokasi. Ia tidak mengetahui siapa saja yang berada di dalam kendaraan tersebut.
Seorang Diri di Dalam Mobil
Setibanya di kediaman Cut Fit, kendaraan yang ditumpangi Nourman masuk ke area parkir belakang rumah.
Sejumlah orang telah berada di sekitar lokasi.
Nourman menduga sebagian dari mereka merupakan aparat kepolisian, tetapi ia mengatakan identitas dan kapasitas masing-masing orang perlu diverifikasi.
Menurut keterangannya, personel Intelkam bernama Ihsan atau Ikhsan kemudian meminta Keuchik dan Tuha Peut keluar dari kendaraan.
Keduanya meninggalkan mobil.
Namun Nourman mengatakan tidak ada arahan yang diberikan kepadanya.
Ia tetap berada di dalam kendaraan sambil menunggu perkembangan situasi.
Tanpa disadarinya, ia akhirnya menjadi satu-satunya orang yang masih berada di dalam mobil.
Beberapa saat kemudian, seseorang datang dan membuka pintu kendaraan.
Di situlah, menurut pengakuan Nourman, situasi berubah menjadi kekerasan.
Pukulan Pertama dari Dalam Mobil
Nourman mengaku langsung mendapat pukulan di bagian wajah ketika masih berada di dalam mobil.
Ia kemudian diseret keluar.
Sejumlah orang disebut mengeroyoknya.
Pukulan dan tendangan mengenai wajah serta tubuhnya hingga menyebabkan luka dan darah mengucur.
Nourman mengatakan tidak sempat menjelaskan maksud kedatangannya. Mediasi yang direncanakan pun tidak pernah dimulai.
Dalam kondisi tersebut, ia melihat Cut Fit berada sekitar satu meter di depannya.
Nourman menyatakan tidak dapat memastikan apakah Cut Fit ikut melakukan pemukulan karena situasi berlangsung kacau dan ia menerima serangan dari berbagai arah.
Namun ia mengaku melihat dan mendengar Cut Fit berada di lokasi serta berteriak-teriak ketika pengeroyokan berlangsung.
Dalam keadaan terdesak, Nourman sempat meminta maaf dengan harapan pengeroyokan dihentikan.
Namun, menurut pengakuannya, serangan tetap berlangsung.
Di tengah kondisi terjatuh dan terluka, ia mendengar seseorang setidaknya dua kali mengucapkan:
“Jangan sampai mati, jangan sampai mati.”
Kalimat itu, menurut Nourman, membuatnya merasa keselamatan jiwanya benar-benar berada dalam ancaman.
Diselamatkan dan Dibawa Keluar
Nourman kemudian mengaku ditolong seseorang yang dikenalnya sebagai personel Intel dari Polsek.
Ia dibawa kembali ke dalam kendaraan.
Dalam kondisi berdarah, Nourman meminta agar segera dibawa keluar dari lokasi.
Kendaraan kemudian meninggalkan kediaman Cut Fit.
Pertemuan yang semula dirancang sebagai silaturahmi dan penyelesaian damai tidak pernah terlaksana.
Tidak ada pembicaraan.
Tidak ada mediasi.
Nourman justru mengaku diserang sesaat setelah tiba.
Ia mempertanyakan bagaimana pertemuan yang sebelumnya disebut telah dikondisikan aman dan kondusif dapat berakhir dengan pengeroyokan.
Ia juga meminta agar diperiksa mengapa Keuchik dan Tuha Peut diarahkan keluar dari kendaraan sementara dirinya tidak diberi arahan, siapa yang mengetahui bahwa ia tinggal seorang diri di dalam mobil, serta siapa yang membuka pintu dan melakukan serangan pertama.
Dibawa ke Rumah Sakit
Setelah meninggalkan lokasi, Nourman dibawa untuk mendapatkan pertolongan medis.
Sekitar pukul 01.00 WIB pada 1 September 2026, ia tiba di salah satu rumah sakit swasta di Banda Aceh.
Ia menjalani pemeriksaan dan perawatan atas luka yang disebutnya akibat kekerasan.
Nourman menyatakan rekam medis, foto luka, hasil pemeriksaan dokter dan visum nantinya menjadi bagian penting dari bukti yang akan diserahkan dalam proses hukum.
Istri Menerima Pesan WhatsApp
Peristiwa tersebut belum berhenti.
Sekitar pukul 03.30 WIB pada 1 September 2026, istri Nourman menerima pesan WhatsApp yang menurut Nourman berasal dari Cut Fit, tetapi menggunakan nomor milik orang lain bernama Hasan Basri.
Dalam komunikasi tersebut, menurut Nourman, terdapat pernyataan yang dipahami sebagai ancaman, termasuk rencana mendatangi Gampong Lhieb, Seulimeum, yang merupakan kampung keluarga mereka.
Nourman juga menyebut komunikasi itu menunjukkan pihak yang menghubungi mengetahui nomor telepon istrinya, tempat tinggal mereka di Ie Masen serta kampung keluarga mereka.
Bagi Nourman, pesan tersebut semakin mengkhawatirkan karena diterima hanya beberapa jam setelah dirinya mengaku mengalami pengeroyokan.
Kembali Muncul di Seulimeum
Sekitar pukul 22.00 WIB pada hari yang sama, Nourman memperoleh informasi bahwa Cut Fit datang ke wilayah Seulimeum dan berusaha menghubungi keluarganya.
Karena Nourman tidak menyaksikan langsung peristiwa tersebut, ia menekankan bahwa informasi itu perlu diperiksa melalui keterangan keluarga, saksi, komunikasi elektronik, CCTV dan bukti lainnya.
Nourman juga menyebut ada informasi yang menurutnya beredar di masyarakat bahwa dirinya disebut telah menyerang orang tua Cut Fit.
Ia membantah narasi tersebut dan meminta seluruh rangkaian kejadian diperiksa berdasarkan urutan waktu serta bukti yang tersedia.
Dua Malam Tidak Berani Pulang
Setelah rangkaian kejadian itu, rasa aman Nourman dan keluarganya berubah.
Ia mengaku selama dua malam tidak berani tidur di rumah sendiri.
Menurutnya, kekhawatiran itu bukan lagi sekadar akibat perdebatan di media sosial.
Sebelumnya telah terjadi kedatangan puluhan orang ke kantornya, komunikasi berulang ke nomor pribadinya, kerusakan kantor ketika tiga anaknya berada di dalam bangunan, pengeroyokan terhadap dirinya, pesan yang dipahami sebagai ancaman kepada istrinya serta kedatangan ke wilayah keluarga.
Nourman mengatakan dirinya kemudian mendapat pengawalan dan perlindungan dari pihak kepolisian serta pendampingan sejumlah aktivis.
Aktivitas Kantor Hukum Nourman & Partners juga disebut terganggu dan tidak berjalan normal selama beberapa hari.
Mengaku Mendapat Screenshot Pengakuan
Dalam keterangannya, Nourman juga menyebut dirinya menerima screenshot dari story akun yang disebut milik Cut Fit.
Menurut Nourman, dalam unggahan tersebut terdapat pengakuan bahwa Cut Fit memukul dirinya.
Nourman juga menyebut terdapat pernyataan yang ia pahami sebagai upaya mengincar istrinya yang bekerja sebagai kepala sekolah rakyat.
Klaim mengenai isi unggahan tersebut masih memerlukan verifikasi terhadap tangkapan layar, akun sumber, keaslian unggahan serta konteks pernyataan secara utuh.
Meminta Seluruh Rangkaian Diusut
Nourman meminta persoalan tersebut tidak dilihat semata-mata sebagai perselisihan akibat sebuah postingan media sosial.
Ia meminta aparat mengusut seluruh rangkaian peristiwa secara menyeluruh.
Mulai dari siapa yang menghubungi dirinya, siapa yang mengorganisasi kedatangan puluhan orang ke kantor, siapa yang melakukan tindakan yang menyebabkan kerusakan, bagaimana informasi mengenai dirinya dan keluarganya diperoleh, hingga siapa saja yang berada di lokasi pertemuan di Tanoh Abee.
Ia juga meminta diperiksa siapa yang membuka pintu kendaraan, siapa yang melakukan pukulan pertama, siapa yang menyeret dan mengeroyoknya, bagaimana peran masing-masing orang serta apa tindakan aparat yang berada di lokasi ketika kekerasan berlangsung.
Termasuk pula asal-usul komunikasi WhatsApp kepada istrinya dan tujuan kedatangan ke wilayah Seulimeum.
Menurut Nourman, seluruh rangkaian tersebut perlu dilihat sebagai satu kesatuan untuk mengetahui apakah terdapat keterkaitan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.
Dari Satire ke Persoalan Hukum
Nourman kembali menegaskan bahwa dirinya memang memiliki sikap pribadi yang menolak LGBT.
Namun ia membantah bahwa postingan yang menjadi awal polemik menuduh Cut Fit sebagai LGBT atau menyimpulkan orientasi seksual seseorang berdasarkan penampilan.
Ia mengatakan postingan tersebut merupakan kritik dan satire terhadap penampilan yang terlihat dalam video yang sebelumnya telah beredar secara terbuka.
Ketika perdebatan berkembang menjadi serangan terhadap orang tua dan keluarga, Nourman mengatakan dirinya memilih menghapus postingan.
Ia menyatakan datang ke Tanoh Abee bukan untuk mencari konfrontasi.
Ia mengaku sengaja tidak membawa pengawal, keluarga maupun pendukung karena percaya bahwa pertemuan tersebut merupakan upaya damai.
Namun, menurut pengakuannya, ia justru diserang ketika masih seorang diri di dalam kendaraan.
Kini, persoalan tersebut telah bergeser jauh dari sekadar polemik media sosial.
Ada dugaan kerusakan kantor, kekerasan fisik, ancaman, persoalan keamanan keluarga serta sejumlah pertanyaan mengenai proses pertemuan yang berakhir dengan pengeroyokan.
Benar atau tidaknya setiap tuduhan dan dugaan tersebut pada akhirnya harus dibuktikan melalui proses hukum, keterangan para saksi, rekaman CCTV, bukti elektronik, data komunikasi, dokumentasi kerusakan, rekam medis, visum serta alat bukti lain yang sah.
Bagi Nourman, satu hal yang ingin dipastikan adalah keselamatan dirinya dan keluarganya sekaligus terungkapnya siapa yang bertanggung jawab atas setiap tindakan dalam rangkaian peristiwa tersebut.
“Yang perlu diperiksa secara hukum adalah seluruh tindakan konkret yang terjadi setelahnya,” demikian substansi pernyataan Nourman dalam kronologis yang dibuatnya pada 2 September 2026.[]

