![]() |
| Laporan analitis Jaringan Survei Inisiatif (JSI) mengungkap kronologi kejadian berdasarkan keterangan TNI AD, informasi awal Komnas HAM Aceh, data rumah sakit, serta kesaksian warga yang diberitakan sejumlah media. Foto/artificial inteligen |
ACEHDIURNA.COM, BANDA ACEH - Kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW di Meunasah Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro/Truseb, Kabupaten Pidie, Aceh, Rabu (4/11/2026), berubah menjadi insiden berdarah. Seorang warga meninggal dunia dan belasan lainnya terluka setelah terjadi kericuhan yang melibatkan aparat keamanan dan warga.
Peristiwa tersebut bermula ketika aparat TNI dan Polri berupaya menurunkan Bendera Bulan Bintang yang dikibarkan di lokasi kenduri. Upaya itu mendapat penolakan dari warga hingga situasi berkembang menjadi bentrokan yang disertai tembakan.
Laporan analitis Jaringan Survei Inisiatif (JSI) mengungkap kronologi kejadian berdasarkan keterangan TNI AD, informasi awal Komnas HAM Aceh, data rumah sakit, serta kesaksian warga yang diberitakan sejumlah media.
Mediasi Berakhir Tanpa Kesepakatan
Rangkaian peristiwa bermula pada Rabu sore. Berdasarkan keterangan TNI AD, aparat TNI dan Polri terlebih dahulu melakukan mediasi dengan panitia kenduri agar bendera diturunkan.
Namun, panitia disebut ingin mempertahankan bendera tersebut. Mediasi pun tidak menghasilkan kesepakatan.
Informasi awal Komnas HAM Aceh menyebutkan, rangkaian kericuhan berlangsung sekitar pukul 16.00 hingga 17.05 WIB. Penolakan terhadap upaya penurunan bendera kemudian berkembang menjadi ketegangan antara warga dan aparat.
Situasi semakin tidak terkendali ketika terjadi aksi saling berhadapan yang disertai dugaan pemukulan dan penembakan.
Aparat Mengaku Dilempari Batu dan Kayu
Dalam penjelasannya, TNI AD menyebut personel yang melakukan penertiban mendapat lemparan batu dan kayu dari sejumlah warga. Beberapa orang juga disebut membawa senjata tajam.
TNI AD menyatakan personelnya telah menggunakan perlengkapan pengendalian huru-hara sebelum melepaskan tembakan peringatan menggunakan munisi hampa. Karena merasa keselamatan terancam, aparat kemudian menggunakan munisi karet.
Setelah massa membubarkan diri, bendera tersebut akhirnya diturunkan.
Namun, keterangan mengenai arah tembakan menjadi salah satu bagian penting yang masih memerlukan pendalaman.
Amran, warga Pulo Keunari yang mengaku berada di lokasi, mengatakan kepada CNN Indonesia bahwa tembakan yang awalnya diarahkan ke udara kemudian diarahkan ke kerumunan warga.
Sementara itu, Sinar Pidie melaporkan Abzalul Riza berada di bawah tenda di pekarangan meunasah ketika terkena tembakan.
Abzalul Riza Tiba di Rumah Sakit dalam Kondisi Meninggal
Sekitar pukul 17.05 WIB, Abzalul Riza (20), warga Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, tiba di RSUD Tgk. Abdullah Syafi’i Beureunuen.
Korban dinyatakan meninggal dunia. Direktur RSUD, Kamaruzzaman, menyebutkan Abzalul mengalami luka pada bagian dada kanan atas, tidak jauh dari bahu.
Hingga pukul 21.30 WIB pada Rabu malam, rumah sakit tersebut telah menerima 12 orang yang berkaitan dengan insiden itu, termasuk Abzalul. Sebelas orang lainnya mengalami kondisi berbeda, di antaranya luka dan memar.
Dalam rekapitulasi yang disampaikan keesokan harinya, TNI AD melaporkan jumlah korban dari kalangan warga mencapai 14 orang. Rinciannya, satu orang meninggal dunia dan 13 lainnya terluka.
TNI AD juga melaporkan enam personelnya mengalami luka-luka dalam kejadian tersebut.
Pada Rabu malam, Kapolres Pidie AKBP Jaka Mulyana menjenguk para korban di rumah sakit. Ia menyampaikan akan berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan TNI untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat.
Jenazah Dimakamkan Dini Hari, Situasi Mulai Kondusif
Setelah insiden tersebut, jenazah Abzalul Riza dimakamkan sekitar pukul 01.00 WIB, Kamis (5/11/2026), di pemakaman umum Dayah Kampong Baru, Kecamatan Tiro.
TNI AD melaporkan situasi keamanan di Gampong Pulo Keunari secara umum telah kondusif pada pukul 04.30 WIB.
Pada hari yang sama, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah bersama Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan menjenguk para korban dan berdialog dengan keluarga mereka di rumah sakit. Fadhlullah juga menyerahkan bantuan kepada korban.
Pemerintah Sepakat Usut Penembakan
Perhatian terhadap insiden tersebut kemudian meluas ke tingkat pemerintah pusat.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengatakan pemerintah sepakat melakukan penyelidikan untuk mengungkap siapa yang melakukan penembakan dan pihak yang harus bertanggung jawab.
Pada Kamis malam, Komnas HAM Aceh menyatakan telah berkoordinasi dengan Komnas HAM pusat untuk menyiapkan investigasi independen.
Komnas HAM berencana menghimpun keterangan dari berbagai pihak, sekaligus memantau penanganan medis dan proses pemulihan para korban.
Identitas Penembak dan Jenis Proyektil Belum Terungkap
Hingga Jumat (6/11/2026), belum ditemukan hasil pemeriksaan balistik yang dipublikasikan kepada masyarakat.
Jenis proyektil yang diduga mengenai tubuh Abzalul Riza, identitas penembak, serta urutan pasti antara aksi pelemparan dan pelepasan tembakan masih harus dipastikan melalui penyelidikan.
Sejumlah pihak mendorong agar pemeriksaan senjata dan amunisi, pengumpulan rekaman asli di lokasi kejadian, serta penelusuran rantai komando dilakukan secara menyeluruh.
Langkah tersebut dinilai penting untuk merekonstruksi peristiwa secara utuh, mengungkap penyebab jatuhnya korban jiwa, dan memastikan pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat.
Dengan demikian, kronologi penembakan di tengah kenduri Maulid di Pulo Keunari belum sepenuhnya terang. Investigasi independen dan hasil pemeriksaan forensik menjadi bagian penting untuk menjawab berbagai pertanyaan yang masih tersisa.[]

