ACEHDIURNA.COM, BANDA ACEH - Ada dua dunia yang tampaknya berjauhan dalam kehidupan Cut Fit.
Yang pertama adalah dunia dayah—dunia kitab, doa, manuskrip tua, dan jejak panjang ulama Aceh.
Yang kedua adalah dunia hutan—tempat burung-burung beterbangan, satwa langka dirawat, pepohonan tumbuh, dan alam menjadi rumah bagi makhluk yang tak mampu berbicara kepada manusia.
Tetapi bagi Cut Fit, dua dunia itu justru bertemu dalam satu keyakinan: apa yang diwariskan kepadanya harus dijaga.
Nama lengkapnya Tgk. Abdul Hafidh Al-Fairusy Al-Baghdady. Di tengah masyarakat, ia lebih dikenal dengan panggilan Cut Fit.
Namanya melekat dengan Dayah Tgk. Chik Tanoh Abee di kawasan Seulimeum, Aceh Besar. Ia merupakan dzurriyat atau keturunan ulama besar Tanoh Abee, sekaligus penerus kepemimpinan dayah setelah ayahandanya wafat.
Tanoh Abee sendiri bukan sekadar sebuah tempat.
Di sana tersimpan bagian penting dari sejarah intelektual Aceh. Tradisi keilmuan diwariskan dari generasi ke generasi. Kitab-kitab dan manuskrip tua menjadi saksi bahwa Aceh pernah menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam yang penting di kawasan Nusantara.
Di tengah warisan itulah Cut Fit tumbuh.
Darah ulama dan amanah yang panjang
Sebagai cucu dari ulama besar kharismatik Aceh, Abu Tanoh Abee, Cut Fit membawa nama besar sebuah keluarga yang memiliki hubungan panjang dengan tradisi keilmuan dan manuskrip kuno.
Warisan itu bukan hanya soal nama keluarga.
Ada tanggung jawab yang ikut menyertainya.
Ketika ayahandanya meninggal dunia, amanah kepemimpinan Dayah Tgk. Chik Tanoh Abee kemudian berada di pundaknya.
Menjadi pemimpin dayah berarti menjaga sebuah tradisi yang usianya jauh lebih panjang daripada usia manusia yang menjalankannya.
Di ruang-ruang dayah, masa lalu dan masa depan bertemu.
Suara pengajian bersambung dengan suara generasi baru yang belajar. Kitab-kitab dibuka. Nama-nama ulama terdahulu terus disebut. Dan di antara semua itu, Cut Fit berdiri sebagai salah satu mata rantai yang menghubungkan generasi sekarang dengan generasi yang telah pergi.
Namun kisahnya tidak berhenti di halaman dayah.
Justru jauh dari suasana kitab dan ruang pengajian, Cut Fit menemukan panggilan lain.
Di alam.
Enam puluh hektare untuk mereka yang tak bisa bicara
Di kawasan perbukitan Jantho/Cucum, Aceh Besar, terbentang lahan sekitar 60 hektare.
Bagi sebagian orang, lahan seluas itu mungkin bisa menjadi perkebunan, kawasan hunian, atau investasi bernilai ekonomi.
Tetapi Cut Fit memilih jalan yang berbeda.
Ia menjadikannya tempat perlindungan bagi satwa.
Dari gagasan itulah lahir Taman Safari Gurun Putih Lestari (GPL).
Di tempat tersebut, Cut Fit merawat berbagai jenis satwa dan burung. Ia mengeluarkan dana pribadi yang disebut mencapai miliaran rupiah.
Tidak ada keuntungan cepat yang menjadi tujuan utama.
Yang ada justru pekerjaan panjang yang melelahkan: menyediakan tempat, makanan, perawatan, dan lingkungan yang layak bagi satwa.
Bagi Cut Fit, mereka bukan sekadar koleksi.
Mereka adalah makhluk hidup.
Bahkan, satwa-satwa yang dirawatnya diperlakukan seperti anak sendiri.
Mungkin di situlah letak sisi paling menarik dari sosok Cut Fit.
Ia mewarisi darah seorang ulama, tetapi sebagian amanah yang dipilihnya justru ia letakkan di tengah hutan.
Ia menjaga kitab dan tradisi di Tanoh Abee.
Pada saat yang sama, ia mencoba menjaga kehidupan di kawasan Jantho dan Cucum.
Dari kitab ke hutan
Ada sesuatu yang terasa seperti benang merah di antara dua dunia itu.
Ulama-ulama Aceh masa lalu mewariskan ilmu agar manusia tidak kehilangan arah.
Cut Fit mencoba meneruskan semangat itu dengan caranya sendiri—menjaga apa yang masih bisa diselamatkan.
Manuskrip tua diselamatkan agar pengetahuan tidak hilang.
Satwa dilindungi agar kehidupan tidak lenyap.
Keduanya sama-sama membutuhkan kesabaran.
Keduanya membutuhkan manusia yang bersedia menjaga sesuatu yang nilainya tidak selalu bisa dihitung dengan uang.
Mungkin itulah sebabnya perjalanan Cut Fit menjadi menarik untuk diceritakan.
Ia bukan hanya tentang seorang cucu ulama yang meneruskan kepemimpinan sebuah dayah.
Ia juga bukan sekadar cerita tentang seorang pemilik lahan yang membangun taman safari.
Ini adalah kisah tentang seorang manusia yang hidup di antara dua warisan: warisan ilmu dan warisan alam.
Tanoh Abee, tempat masa lalu masih bernapas
Tanoh Abee menyimpan ingatan.
Di tempat itu, nama-nama ulama masa lalu tidak benar-benar hilang. Mereka tetap hidup melalui kitab, manuskrip, tradisi keilmuan, dan keturunan yang meneruskan amanah.
Cut Fit adalah bagian dari mata rantai itu.
Namun zaman berubah.
Generasi baru tumbuh dalam dunia yang berbeda. Hutan menyusut. Satwa semakin terdesak. Manuskrip tua menghadapi ancaman usia. Tradisi bisa perlahan kehilangan peminat jika tidak ada yang merawatnya.
Karena itu, tugas menjaga warisan tidak pernah benar-benar selesai.
Setiap generasi mendapat gilirannya.
Dan Cut Fit tampaknya memilih untuk menjalani gilirannya dengan cara yang unik.
Satu kakinya berada di dunia dayah.
Satu kaki lainnya menginjak tanah, hutan, dan kawasan konservasi.
Di satu tempat, ia berhadapan dengan kitab.
Di tempat lain, ia berhadapan dengan kehidupan liar.
Keduanya membutuhkan penjaga.
Ketika manusia memilih untuk berbagi
Di tengah perbukitan Jantho/Cucum, suara burung menjadi bagian dari keseharian.
Pepohonan tumbuh. Satwa bergerak. Kawasan yang dahulu mungkin hanya dipandang sebagai lahan, perlahan berubah menjadi ruang kehidupan.
Di situlah pengorbanan Cut Fit menemukan bentuknya.
Ia tidak hanya mengeluarkan tenaga.
Ia juga mengeluarkan harta pribadi untuk sesuatu yang mungkin tidak memberikan keuntungan materi secepat bisnis pada umumnya.
Tetapi barangkali ukuran keberhasilan baginya memang berbeda.
Bukan berapa banyak uang yang kembali.
Melainkan berapa banyak kehidupan yang berhasil diselamatkan.
Berapa banyak satwa yang masih dapat hidup.
Berapa banyak anak muda yang bisa melihat bahwa alam bukan sesuatu yang boleh dihabiskan.
Dan berapa lama lagi nama Tanoh Abee tetap dikenal bukan hanya sebagai nama sebuah tempat, tetapi sebagai bagian dari sejarah panjang ilmu dan peradaban Aceh.
Warisan yang belum selesai
Pada akhirnya, kisah Cut Fit adalah kisah tentang amanah.
Amanah yang datang dari leluhur.
Amanah yang kemudian harus diterjemahkan oleh setiap generasi dengan bahasa zamannya sendiri.
Bagi Cut Fit, bahasa itu mungkin berupa dayah.
Mungkin berupa kitab dan manuskrip.
Mungkin pula berupa hutan, burung, dan satwa yang membutuhkan perlindungan.
Di Tanoh Abee, ia berdiri di atas jejak para ulama.
Di Jantho dan Cucum, ia berdiri di tengah alam yang ingin dipertahankan.
Dua tempat.
Dua dunia.
Tetapi satu pesan yang sama:
Warisan tidak cukup hanya dikenang. Warisan harus dijaga.
Dan selama masih ada orang yang bersedia menjaganya, cerita Tanoh Abee belum selesai.
Begitu pula cerita tentang Cut Fit.[]
